Tuhaan, mungkin aku terima cacat seperti ini jika saja
orang-orang bisa menerimaku selayaknya mereka menerima orang-orang normal. Aku
juga bisa saja ikhlas menjadi bahan perolokkan mereka jika saja mereka tidak
juga mengolok-olok Ayahku dan juga bisa sedikit menghibur dan bermain bersamaku.
Lantas Bunda, kenapa kau buang aku saat kau tau aku lahir
seperti ini? Taukah Bunda, aku butuh engkau Bunda. Aku butuh seseorang yang menyemangatiku ditengah-tengah neraka dunia
ini. Ditengah-tengah kebahagiaan mereka dan kesedihanku saat adat
mengolokku itu tiba Bunda. Mungkin aku memang tak pantas menjadi anakmu, namun
haruskah kau tinggalkan juga Ayahku Bunda? Kenapa kau tidak memilih untuk
membuangku saja dan tetap bersama Ayah? Tak sudi rasanya menjadi alasan
perpisahan kalian. Atau kenapa kau harus mempertahankan aku dirahimmu jika
akhirnya aku dikucilkan oleh Bundaku sendiri? Akankah karena alasan kau tak tau
wujud seperti apa yang akan lahir? Kau tau Bundaku tersayang? Itu berarti kau
tidak siap menyayangi seorang anak, Bunda. Ayahlah yang benar siap menerima
kasih sayang dan mengasih sayangi anaknya, Bunda. Aku terima jika aku tak diterima. Namun aku tak terima jika orang yang
kusayang juga ikut tak diterima. Karna ia menyayagiku, karna ia ku sayang.
Karna aku. Ia menjadi bahan pelecehan.
Kawan, kenapa kalian tidak ingin bermain denganku? Malukah
kalian terhadap orang-orang lain yang melihat kita bermain nanti? Aku terima
itu. Aku terima jika aku memang memalukan dan tak selevel dengan kalian bahkan
tidak sepantasnya mengenal kalian. Tapi apakah kalian punya alasan untuk
mengolokku seperti yang biasa kalian lakukan? Begitukah cara kalian menghiburku?
Atau itukah niat kalian menghibur dirimu dan menjatuhkanku? Aku tau aku memang
jauh dibawah kalian. Tapi pantaskah kalian memperlakukanku seperti ini? Bukankah kita diciptakan oleh Tuhan dan
bahan yang sama? Sederajatkah kalian dengan Tuhanku? Jauh derajatkah aku dengan
kalian?
Akulah sang orang cacat. Namun bukan kemauanku seperti ini.
Tuhan yang memerintahkan tanah itu,
berbentuk dan berwujud seperti ini. Seperti apa yang kalian lihat padaku.
Haruskah aku marah pada Tuhan? Andai saja aku berani, mungkin aku lakukan. Tapi
aku jauh lebih menghargainya. Jauh lebih menghargai Tuhanku. Bahkan terkadang
aku mencoba merasa spesial karna berbeda dengan kalian. Bahkan terkadang aku
mencoba merasa bersyukur tidak memiliki sifat keji seperti kalian.
Tolong, jangan
bedakan aku seperti ini. Aku sama dengan kalian. Juga ingin mempunyai
sesuatu yang berharga, juga ingin dihibur, bahkan juga ingin bermain dan akupun
seorang manusia yang bersifat sosial yang butuh bantuan dari orang lain. Kalian.
Jika saja aku bisa memilih seperti apa wujudku ini. Tapi sayang, sungguh aku
hanya bisa menerima.
Kau tau? Sulit untuk mencoba ikhlas. Karna apa? Karna
tingkah kalian yang takut padaku. Cukup sakit saat kalian menjauhiuku. Sungguh
membingungkan apa yang salah dariku? Demi Tuhan, aku tidak jahat dan tidak akan
membuat kalian menjadi jahat. Sulit untuk menyadari diri bahwa tubuhkulah yang
membuat kalian menilai aku aneh dan mulai takut padaku bahkan menjauhiku.
Tolong, jangan jauhi aku. Jangan sakiti hati ini lagi.
Jangan menambahkan dosa kalian lagi. Maaf, jujur aku sakit dan jujur aku
tersiksa jika kalian masih menganggapku buruk. Biarkan aku hidup dengan caraku, wujudku, dan fikiranku. Bantu aku
dalam menjalani hidup upnormalku.

0 komentar:
Posting Komentar